Sudah hampir 10 bulan ini hidup kita serba terbatas. Adanya pandemi menjadikan semua aktiftas tidak seperti biasanya. Termasuk belajar di sekolah, kini harus dilakukan dari rumah. Adakah yang senang dengan keterbatasan? Sepertinya tidak ada. Karena kini semua terbatas, tidak ada jalan lain selain kita menikmatinya. Melanjutkan hidup dengan terus tabah dan beradaptasi.

Ketabahan (grit/persistensi) dan kemampuan beradaptasi adalah di antara keterampilan abad 21, masa di mana kita hidup. Istilah lain yang mendekati makna ini adalah resiliensi (ketahanan). Pada masa pandemi seperti ini, skill dan sikap terhadap keterbatasan sangat penting.

Reivich dan Shatte (2002) penulis The Resilience Factor; 7 Essential Skill for Overcoming Life’s Inevitable Obstacle (Faktor Ketahanan: 7 Keterampilan Penting untuk Menghadapi Hambatan Hidup yang Tak Terelakan) menyebutkan 7 keterampilan dalam menghadapi hambatan hidup. Keterampilan ini sangat penting dan dapat dilatih. Berikut adalah 7 keterampilan tersebut.

1. Efikasi Diri

Efikasi diri dikenal juga dengan kepercayaan diri, yaitu keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif, serta mampu bangkit dari kegagalan yang dialami. Bagi seorang Muslim, kepercayaan terhadap kemampuan diri adalah wajib karena Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan yang terbaik (ahsan taqwim). Percaya diri adalah bentuk syukur atas karunia Allah. Dengan itu kita akan mampu menghadapi kondisi apapun.

2. Regulasi Emosi

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengatur emosi atau mengendalikan diri. Pada kondisi tertentu emosi kita tidak stabil. Bisa marah, sedih, bahagia dan sebagainya. Mengendalikan emosi agar tetap wajar dalam berbagai kondisi yang dihadapi akan meningkatkan keterampilan resiliensi. Regulasi emosi dipengaruhi oleh dua hal, yaitu ketenangan (calming) dan fokus (focusing). Seseorang yang mampu mengelola kedua hal ini, dapat membantu meredakan emosi mereka, memfokuskan pikiran dan mengurangi stres.

Ketika marah, Islam mengajarkan untuk berta’awudz dan berwudlu. Dalam riwayat Ahmad bin Hanbal jika sedang berdiri maka disarankan untuk duduk, dan jika masih marah disarankan untuk berbaring.

3. Pengendalian Impuls

Pengendalian impuls merupakan kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Rendahnya tingkat pengendalian impuls akan membuat seseorang mengalami perubahan emosi dengan cepat dan cenderung mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, serta berlaku agresif pada situasi-situasi kecil yang tidak terlalu penting, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan pada lingkungan sekitar.

4. Analisis Penyebab Masalah

Analisis penyebab masalah adalah kemampuan melakukan analisa, yaitu mengurai secara lebih detil sebuah kejadian atau masalah dan kemudian merumuskan solusi atau langkah perbaikan.  Misalnya, dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar. Jika kita pernah terlambat, kita perlu menganalisis keterlambatan itu. Apakah karena belum paham, menanti-nanti, atau karena yang lainnya. Jika sudah melakukan analisis kemudian solusinya akan bisa dilakukan. Kemampuan ini dapat dibentuk dari pendidikan, pembiasaan dan latihan yang dilakukan secara terus menerus.

5. Optimisme

Optimisme adalah sikap untuk senantiasa berpikir dan berpandangan positif, serta bertindak konstruktif dalam situasi apa pun. Dalam Islam ajaran optimisme ini adalah di antara bentuk wujud kesyukuran dan keimanan. Wujud sederhana optimisme adalah dengan selalu tersenyum. “Sesungguhnya dalam kesulitan ada kemudahan”, demikian disebutkan dalam surat al-Insyirah.

6. Empati

Empati adalah kemampun untuk merasakan dan memahami kondisi psikologis dan emosi orang lain. Empati dapat dilakukan dengan mencoba menempatkan diri kita pada kondisi orang lain. Misalnya, jika ada yang terkena musibah kita membayangkan diri kita sebagai orang yang terkena musibah tersebut. Atau, untuk merasakan sakitnya dibully atau dihina, cobalah tempatkan diri kita menjadi korban bully atau hinaan. Empati juga dapat dilatih dengan menjadi pendengar yang baik Ketika orang lain berbicara.

7. Peningkatan Aspek Positif

Resiliensi meliputi kemampuan peningkatan aspek positif dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan Aspek Positif merujuk pada kemampuan untuk senantiasa menambah nilai positif dalam diri seseorang. Islam mengajarkan aspek positif ini dengan husnuzhann, prasangka baik. Kondisi pandemi yang membatasi ini kita lihat aspek atau hikmah positifnya. Tidak mudah tapi akan bisa dengan berlatih. “Aku adalah sebagaimana prasangka hamba-Ku”, demikian disebutkan dalam sebuah hadits.